
Keluarga besar SMKN 1 Belitang III kembali menggelar peringatan hari besar Islam, Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Isra Mi’raj bukan sekadar peristiwa sejarah perjalanan malam Rasulullah dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa lalu menuju Sidratul Muntaha, melainkan sebuah momentum besar di mana perintah shalat lima waktu pertama kali diturunkan.
Bagi warga SMKN 1 Belitang III, peringatan ini menjadi pengingat penting untuk memperbaiki kualitas ibadah sebagai fondasi karakter seorang pelajar.
Acara dibuka dengan sambutan hangat dari Kepala SMKN 1 Belitang III, Bapak Sapto Agung Nugroho, S.Pd., M.M. Dalam penyampaiannya, beliau menekankan pentingnya keseimbangan antara kompetensi keahlian dan akhlakul karimah.
“Pendidikan bukan hanya soal mencetak siswa yang pintar secara akademik, tapi juga yang kuat secara spiritual. Melalui peringatan Isra Mi’raj ini, kami berharap siswa-siswi dapat menjadikan shalat sebagai kebutuhan, bukan sekadar kewajiban,” tutur beliau di hadapan seluruh peserta.
Acara inti diisi oleh tausiyah dari pendakwah kondang, H. Maksudi Bil Khoiri, S.Th.I., M.Ag. Dengan mengusung tema “Shalat sebagai Penuntun Jati Diri dan Perisai dari Pergaulan Bebas”, beliau memaparkan materi dengan sangat lugas dan relevan bagi generasi muda.

Beliau menjelaskan bahwa di era digital yang penuh tantangan ini, pergaulan bebas menjadi ancaman nyata bagi masa depan remaja. Namun, sesuai janji Allah dalam Al-Qur’an, shalat yang dilakukan dengan benar akan mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan munkar. Shalat adalah identitas atau jati diri seorang Muslim yang akan membimbing mereka dalam membuat keputusan yang benar di lingkungan sosial.

Suasana di lokasi kegiatan tampak sangat hidup. Ratusan siswa-siswi SMKN 1 Belitang III mengikuti jalannya acara dengan penuh antusias. Tidak hanya mendengarkan secara pasif, banyak siswa yang terlihat mencatat poin-poin penting dari dakwah yang disampaikan. Gelak tawa sesekali pecah saat pendakwah menyisipkan humor segar, namun suasana kembali khidmat saat doa bersama dikumandangkan.
Melalui peringatan Isra Mi’raj ini, sekolah berharap pesan yang disampaikan dapat terinternalisasi dalam diri setiap siswa.
Kesimpulan Utama:
- Shalat adalah Kompas: Tanpa shalat, seorang remaja akan kehilangan arah (jati diri) di tengah arus informasi yang deras.
- Benteng Diri: Ibadah yang konsisten akan menjadi filter alami terhadap pengaruh negatif pergaulan bebas.
Semoga momentum ini menjadi titik balik bagi seluruh civitas akademika SMKN 1 Belitang III untuk menjadi pribadi yang lebih religius, disiplin, dan berkarakter unggul.

